Dihadapan Hakim, Mantan Kepsek SMP 3 Ujungbatu ini Bilang, Sempadan Tanda Tangan SKGR Tidak Tau

oleh -166 views

“Saat Hakim menanyakan tentang keaslian tanda tangan sempadan dan penjual pada SKGR atas namanya, dirinya  tidak tau karena urusannya semua diurus rekan guru nya.“Saya terima siap SKGR itu. Yang mengurus SKGR itu adalah rekan guru saya sampai selesai.” Terang Yeni.”

Pasir Pengarayan,(Media Geser)- Dengan lanjutan Sidang terkait  perkara dugaan pemalsuan dan penggelapan SKGR terdakwa Yeni Irmayati dan Juraidi alias Ibung masih dalam agenda mendengarkan keterangan saksi, digelar di PN Pasir Pengaraian Rabu siang (19/5/2021) kemaren.

Dalam sidang tersebut dipimpin Hakim Ketua Lusiana Amping, SH, MH dengan Anggota, Gerri Caniggia, SH  dan Gilar Amrizal, SH,  bertindak sebagai Jaksa Penuntut Umum (JPU) Hendra Rasyid Nasution, SH, MH dan  Panitera Aryandanda, SH, MH.

Sidang dimulai pukul 13.30 Wib, hadir di ruang sidang terdakwa Yeni Irmayati dan Juraidi alias Ibung, kuasa hukum terdakwa Poltak SH mengikuti sidang lewat Zoom. hadir hukum pelapor Indra Ramos S HI dan rekan beserta rekan media.

Pengadilan Negeri Pasir Pengaraian Saat sidang terkait pemalsuan SKGR

Kali ini JPU Hendra Rasyid menghadirkan dua orang saksi, pertama Yusmardi sebagai salah satu saksi Kunci dan Hen sebagai saksi Sempadan tanah yang kini bersengketa.
Seperti biasa kedua orang saksi disumpah didepan majelis hakim sebelum mengutarakan kesaksiannya.

Yusmardi salah satu saksi kunci diawal sidang mengutarakan kronologis kejadian perkara dugaan Pemalsuan Surat Keterangan Ganti Rugi ( SKGR ) sebidang tanah ukuran 15 × 45 meter di jalan Lingkar dusun Bukit Raya desa Pematang Tebih Kecamatan Ujungbatu. Dalam perkara ini korban Damrizal sebagai pemilik tanah tersebut membeli dari saudara Samsul Bahri alias Kari sekitar tahun 2009.

Sementara terdakwa ibu Yeni Irmayati mantan Kepsek SMP 3 Ujungbatu dan Juraidi alias Ibung mantan Kades Pematang Tebih dua priode diduga bekerjasama menerbitkan SKGR atas nama Yeni Irmayati setelah mantan Kepsek SMP 3 Ujungbatu itu membeli tanah itu dari seorang Ibu Rumah Tangga yang lazim di panggil bu Joko seharga Rp 25 juta.

Pengadilan Negeri Pasir Pengaraian Saat sidang terkait pemalsuan SKGR

Tentu saja dilanjutlan dengan pengurusan surat balik nama, sayangnya SKRG milik Yeni Irmayati itu tumpang tindih dengan SKGR abang iparnya atas nama haji Damrizal.
Hal itu diungkapkan saksi Yusmardi mengawali keterangannya didepan majelis hakim dan terdakwa.

“Sejak tanah ini bermasalah tahun 2014 sedikitnya saya sudah enam kali menjumpai Kades pak Juaridi, baik saat  beliau masih aktif sebagai Kades Pematang Tebih dan setelah habis masa tugas. Karena abang ipar saya mempercayakan menjaga seluruh asetnya yang di Ujungbatu, setelah beliau pindah ke Pekanbaru sekira tahun 2020 lalu”, sambung Yusmardi.

“Saya ingin menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan, namun selalu menemui jalan buntu,  pihak terdakwa selalu mengatakan kalau tidak senang silakan lapor kemana saja kalian mau,  sehingga saya dan abang ipar saya haji Damrizal memutuskan mencari Kuasa Hukum”, ujar Yusmardi.

Lanjutnya, setelah perkara ini dikuasakan haji Damrizal sebagai pemilik tanah kepada pengacara Indra Ramos SHI dan dilaporkan ke Polda Riau tahun 2019 lalu, beberapa tokoh penting kecamatan Ujungbatu telah berupaya mendamaikan kedua belah pihak karena masih terkait hububgan family, namun kesepakatan damai itupun tidak dilaksanakan pihak terdakwa hingga waktu yang disepakati, urainya didepan majelis Hakim.

Tambah Yusmardi, setau saya dua nama saksi sempadan yang tertera di SKGR atas nama terdakwa Yeni Irmayati itu tidak berbatas langsung dengan tanah tersebut, melainkan masih ada rumah milik orang lain diantaranya, satu nama tertera Nainggolan.

“Setau saya Nainggolan itu bukan nama orang, melainkan salah satu marga suku Batak, dan juru ukurnya juga tertulis langsung nama Kades Juraidi”, paparnya.

Lebih jauh Yusmardi menjelaskan, begitu mengetahui telah timbul surat SKGR baru atas nama Yeni Irmayati diatas lahan yang sama tahun 2014 lalu,  saya sebagai kepercayaan Haji Damrizal langsung menemui penjual tanah pak Kari dan kami menghadap ibu Yeni kerumahnya untuk mempertanyakan keabsahan SKGR ibu Yeni itu, paparnya di hadapan majelis hakim dan kedua terdakwa.

Selanjutnya hakim ketua Lusiana Amping meminta penjelasan terdakwa Yeni atas pernyataan saksi dan mempersilahkan bila ada keberatan terdakwa untuk klarifikasi.

Terdakwa Yeni menjelaskan dan mengakui dengan tenang dan terang bahwa ia membeli tanah itu dari istri Joko, dan atas permintaannya sendiri melalui rekan guru SMP 3 ke perangkat desa untuk menguruskan balik nama SKGR dari pemilik Damrizal menjadi namanya sendiri.

“Saya bercerita kepada rekan guru SMP 3 sekaligus mecarikan siapa yang bisa menguruskan balik nama SKGR itu, ternyata ada salah satu rekan guru yang bisa menguruskannya hingga tuntas”, urai bu Yeni didepan Majelis.

Saat Hakim menanyakan tentang keaslian tanda tangan sempadan dan penjual pada SKGR atas namanya, dirinya  tidak tau karena urusannya semua diurus rekan guru nya.

“Saya terima siap SKGR itu. Yang mengurus SKGR itu adalah rekan guru saya sampai selesai.” Terang Yeni.

Sidang dilanjutkan dengan mendengarkan keterangan saksi kedua Hen.
Dalam kesaksiannya Hen menguatkan bahwa dua nama saksi Sempadan yang tertera di SKGR milik Yeni Irmayati tidak berbatas langsung dengan tanah tersebut.

Kemudian majelis hakim membacakan keterangan saksi ahli  Kardiansyah yang telah disumpah sebelumnya, dari kronolis kejadian Kardiansyah mengatakan kepada terdakwa patut diduga telah melanggar KUHP pasal 23 tentang Pemalsuan Surat. Karena terdakwa tidak membeli tanah itu kepada pemilik yang bersangkutan yakni haji Damrizal, melainkan kepada bu Joko yang tidak ada sangkut pautnya kepada pemilik tanah tersebut.

Sidang ditutup pukul 15.30 Wib dan akan dilanjutkan Senin depan dalam agenda mendengarkan keterangan Saksi Ahli dari terdakwa.

Usai sidang, Kuasa Hukum pelapor Indra Ramos kepada wartawan menjelaskan, setelah mendengarkan keterangan saksi dan terdakwa, bahwa terdakwa Yeni Irmayati tidak membeli tanah itu dari saudara Samsul Bahri alias Kari, sekalipun nama tersebut tertera sebagai penjual pada SKGR miliknya.

“Dengan permintaan bu Yeni sendiri membalik namakan SKGR dar atas nama Damrizal ke namanya tanpa konfirmasi kepada orang yang bersangkutan, keterangan terdakwa itu sudah cukup jelas dan terang,” ungkap Indra mengakhiri.

(Elisman Purba/Desmon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.