Medan, (Media Geser) – 11 November 2025 – Masyarakat Batak Toba dan HKBP di kawasan Danau Toba merasa dikecewakan oleh tindakan Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Bobby Nasution. Janji untuk mengangkat warga HKBP sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) dianggap hanya sebagai formalitas belaka. Pelantikan Togap Simangunsong, seorang jemaat HKBP Rawamangun, Jakarta, sebagai Sekda pada 11 Juli 2025, diikuti dengan pensiunnya pada 31 Oktober 2025, dinilai sebagai “prank” karena jabatan tersebut hanya diemban kurang dari empat bulan. Padahal, banyak warga HKBP lain yang memenuhi syarat untuk posisi tersebut.
Kekecewaan tidak hanya dirasakan oleh HKBP dan masyarakat Batak Toba, tetapi juga oleh pimpinan dan warga di kawasan Danau Toba, massa aksi pro tutup TPL, serta rohaniawan lintas agama. Bobby Nasution, yang sebelumnya tampak mendukung warga di kawasan Danau Toba, kini dianggap menghindar dan tidak peduli terhadap aspirasi mereka.
Kehadiran Bobby di Jakarta pada Hari Pahlawan, untuk mendampingi keluarga Rondahaim Saragih Garingging menerima gelar pahlawan nasional, menuai kritik. Tindakan ini dianggap sebagai upaya mencari perhatian dan menghindari tanggung jawab terhadap permasalahan di Sumatera Utara, khususnya terkait tuntutan penutupan TPL.
Kehadiran Bobby di Istana Negara juga dipertanyakan, mengingat undangan biasanya hanya ditujukan kepada keluarga atau ahli waris pahlawan nasional. Tidak adanya kepala daerah lain yang hadir dalam acara tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa Bobby memiliki motif tersendiri.
Aksi massa pro tutup TPL yang mendatangi kantor Gubsu sebagai perwakilan pemerintah pusat di daerah, seolah diabaikan oleh Bobby. Ketakutan Bobby untuk bersikap mendukung penutupan TPL diduga disebabkan oleh kedekatan TPL dengan para Gubsu sebelumnya, serta dukungan yang mungkin diberikan kepada Bobby pada Pilgubsu 2024.
Penolakan massa aksi pro Tutup TPL yang hanya ditemui oleh Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagubsu) Surya dianggap tidak memadai. Masyarakat membutuhkan kehadiran dan pernyataan sikap langsung dari Gubsu yang mereka pilih.
Tindakan Bobby Nasution ini dianggap sebagai anti klimaks bagi masyarakat kawasan Danau Toba yang sebelumnya menaruh harapan besar padanya. Pada Hari Pahlawan, Bobby dinilai lebih memilih untuk menemui guru honorer SMK Negeri 1 Kutalimbaru dan menjanjikan bantuan, sementara tuntutan terkait kerusakan ekologi di kawasan Danau Toba diabaikan.
Penulis: Sutrisno Pangaribuan
Presidium Kongres Rakyat Nasional (Kornas)
Presidium Pergerakan Rakyat Indonesia Makmur Adil (Prima)
Presidium Perkumpulan Semangat Rakyat Anti Korupsi (Semarak)
Direktur Eksekutif Indonesia Government Watch (IGoWa)





