Abdul Wahid, Gubernur Omon-Omon: Mulai dari Defisit Anggaran, Pusing 7 Keliling, Jalan-Jalan Ngemis ke Jakarta, Berniat Jual Stadion Utama Riau Hingga Mau Mengganti Nama Stadion Kaharuddin Nasution

oleh -649 views

Sayed Abubakar Abdullah Assegaf tegaskan bahwa, Mengganti Nama Stadion Kaharuddin Nasution Adalah Tindakan Tanpa Arah, sementara Ketua DPD KNPI Provinsi Riau bilang Ajo Wahid Pemimpin Banyak Cito.

 

JAKARTA– Rencana Gubernur Riau Abdul Wahid dalam mengganti nama Stadion Kaharuddin Nasution memicu Gelombang Kritikan dari berbagai kalangan. Salah satu yang menyuarakan penolakannya adalah Tokoh Nasional asal Riau, yang juga Politisi Senior dan Mantan Anggota DPR RI, Haji Sayed Abubakar Abdullah Assegaf, yang dengan tegas menyebutkan, bahwa Kebijakan tersebut tidak memiliki arah yang jelas dan mencerminkan Krisis Prioritas di Lingkaran Pemerintahan Provinsi (Pemprov) Riau.

Dalam Pernyataannya, Sayed menegaskan bahwa nama Kaharuddin Nasution memiliki Nilai Historis yang tidak bisa digantikan begitu saja.

“Nama Kaharuddin Nasution bukan sekedar nama. Ia adalah Warisan Sejarah, Simbol Penghargaan terhadap jasa dan identitas bagi masyarakat Riau.

Mengganti nama Stadion adalah bentuk Pelecehan terhadap Nilai Pengabdian,” ujar Sayed saat ditemui di Kota Pekanbaru, Minggu (1/6/2025).

Kaharuddin Nasution dikenal sebagai Sosok Pemimpin yang berjasa besar dalam Pembangunan Provinsi Riau di masa awal terbentuknya. Ia pernah menjabat sebagai Gubernur Riau dan dikenal Luas atas Pengabdiannya terhadap Masyarakat dan Daerah.

Pemberian Nama pada Stadion Kaharuddin Nasution maupun Stadion Utama Riau di Pekanbaru merupakan bentuk Penghormatan terhadap Jasa-Jasa para Pendahulu.

Sayed menilai Langkah Gubernur Abdul Wahid justru menunjukkan Kemiskinan Gagasan dan Ketidaktegasan dalam Menentukan Arah Kebijakan Publik.

Pemimpin yang bekerja seharusnya Fokus pada hal-hal Mendasar: Perbaikan Ekonomi Rakyat, Pendidikan, Kesehatan, dan Pembangunan infrastruktur. Bukan mengganti nama tempat publik hanya untuk sekedar terlihat Aktif, katanya.

Ia juga Mengkritik Tren di Kalangan Pejabat yang Gemar Mengganti Nama Jalan, Sekolah atau Fasilitas Umum sebagai upaya Pencitraan. Menurutnya, Langkah-Langkah semacam itu sering kali tidak melibatkan Dialog Publik dan Tidak Memberi Manfaat Konkret bagi Kepentingan dan Kesejahteraan Masyarakat.

Rakyat Tidak Butuh Perubahan Nama, Rakyat Butuh Perubahan Nasib. Ini yang sering dilupakan oleh para Pemimpin-Pemimpin kita. Jika ingin dikenang, maka berbuatlah, bukan dengan menghapus nama orang yang lebih dahulu berjasa,” tegas Sayed Abubakar Abdullah Assegaf alias Ibeck Ronggo 88.

Abdul Wahid, Gubernur Omon-Omon: Mulai dari Defisit Anggaran, Pusing 7 Keliling, Jalan-Jalan Ngemis ke Jakarta, Berniat Jual Stadion Utama Riau Hingga Mau Mengganti Nama Stadion Kaharuddin Nasution.

Lebih lanjut, Sayed mengingatkan bahwa Masyarakat Melayu sangat Menjunjung Tinggi Nilai-Nilai Sejarah, Penghormatan terhadap yang Lebih Tua, serta Pentingnya Menjaga Warisan.

“Orang Melayu Riau Menghormati yang Tua, para Pendahulu dan yang Berjasa. Jangan sampai kita Kehilangan Akar, hanya karena Mengejar daun-daun yang belum tentu tumbuh,” ujarnya.

Sayed mengajak Seluruh Elemen Masyarakat Riau, termasuk Tokoh Adat, Akademisi, Tokoh Pemuda dan Lembaga Masyarakat Sipil, untuk bersama-sama Menjaga Nama Kaharuddin Nasution Tetap Terpahat di Stadion Kebanggaan Masyarakat  Riau tersebut.

“Ini Bukan Soal Nama Semata. Ini soal Martabat, Harga Diri dan Nilai-Nilai Sejarah, Mengganti nama Stadion adalah Mengganti Sejarah dan Sejarah tidak untuk dihapus, tapi untuk dihormati dan dijaga,” tutupnya.

Terpisah, bertempat di Ruang Tunggu Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Bareskrim Mabes Polri, Hari ini Senin (2/6/2025), bahwa Pimpinan INDUK Organisasi Kepemudaan (OKP) terbesar dan tertua di Negeri ini tegaskan, agar Masyarakat Provinsi Riau harus benar-benar sabar dan tetap tenang melihat Tingkah para Pemimpinnya. Pemerintahan yang diisi oleh Kalangan Pejabat bermental Badut Jalanan.

Respon Niat Gubernur Riau Ganti Nama Stadion Kaharuddin Nasution: Sayed Abubakar Assegaf Bilang itu Tindakan Tanpa Arah, Ketua KNPI: “Ajo Wahid Banyak Cito”

Selain Tokoh Nasional yang juga sekaligus Politisi Senior dan mantan Anggota DPR RI, Sayed Abubakar katakan hal tersebut, Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) tingkat I, Komite Nasional Pemuda Indoensia (KNPI) juga sampaikan Kritikan yang sama.

Bahwa, menurut Ketua DPD KNPI Provinsi Riau itu, semenjak di Lantik, Gubernur Abdul Wahid selalu Mempertontonkan Ketidakbecusannya dalam Memimpin, walaupun selalu berkata dengan istilah Gubernur Muda, tetapi dalam 100 Hari Kerja ini, terbukti Gubernur Riau Abdul Wahid Gagal Total, jauh dibawah Kualitas dari seorang Gubernur Maluku Utara (Malut) Sherly Tjoanda alias Sherly Laos.

“Ajo Wahid Pemimpin Banyak Cito, gayanya selangit!!! tetapi justru Hobbi dalam Menghembuskan Pesimisme, teriak-teriak bilang Defisit Anggaran, Rakyat dibuatnya Khawatir, model Pemimpin Brondolan, selalu Cengengesan, Jalan-Jalan keluar Kota, bahkan untuk ke Daerah Kabupaten Pelalawan saja dia pakai Helikopter. Bagaimana mungkin dia tahu kondisi Jalan yang berlobang??? sementara kebanyakan dalam aktivitasnya selalu Berpantun, tanpa Hasil Kerja yang Nyata. Pemimpin Omon-Omon, Bauk Kali Nafasnya” ungkap Ketua KNPI Riau Larshen Yunus, seraya meneteskan air matanya dan mengakhiri pernyataan pers tersebut. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.